Border Tourism Area: Saat Sebatik, Sei Menggaris, dan Labang Diproyeksikan Jadi Koridor Wisata

oleh -3 views
Wisata Arung Jeram di Sungai Sedalir, Kecamatan Lumbis Pansiangan (Foto: BPPD Nunukan)

NUNUKAN — Kabupaten Nunukan memiliki peluang besar mengembangkan pariwisata berbasis kawasan perbatasan. Posisi geografis yang berhadapan langsung dengan wilayah Sabah, Malaysia, menjadi modal penting untuk mengembangkan perjalanan wisata yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

Peluang tersebut salah satunya dituangkan dalam Kertas Kerja 2 melalui gagasan Border Tourism Area atau kawasan wisata perbatasan.

Konsep tersebut diarahkan pada tiga koridor, yakni Sebatik–Tawau, Sei Menggaris–Serudong/Kalabakan, dan Labang–Bantul. Pengembangannya diharapkan dapat menarik wisatawan, memperkuat pertukaran budaya, sekaligus membuka aktivitas ekonomi baru di sekitar kawasan perbatasan.

Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Nunukan, Robby Nahak Serang, mengatakan potensi pariwisata perbatasan harus dilihat lebih jauh dari sekadar jumlah orang yang melintas.

“Tantangannya adalah bagaimana kunjungan lintas batas dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas kepada masyarakat,” kata Robby.

Menurutnya, wisatawan yang datang ke Nunukan harus memiliki alasan untuk tinggal lebih lama dan menikmati berbagai aktivitas yang tersedia di daerah.

Dengan demikian, mobilitas lintas batas tidak berhenti di pintu masuk, tetapi dapat diteruskan menjadi aktivitas ekonomi di tengah masyarakat.

Peluang tersebut semakin terbuka jika melihat perkembangan kunjungan wisatawan mancanegara di Nunukan.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan mencatat terdapat 1.411 kunjungan wisatawan mancanegara melalui pintu imigrasi pada Maret 2026. Angka itu meningkat 41,8 persen dibandingkan Februari yang tercatat 995 kunjungan.

Pada periode yang sama, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel dan akomodasi lainnya mencapai 17,50 persen, naik 3,38 poin dibandingkan Maret 2025 yang berada pada angka 14,12 persen. Data tersebut menunjukkan adanya pergerakan positif pada sektor pariwisata dan jasa akomodasi di Nunukan.

Namun, angka kunjungan tersebut belum otomatis berarti wisatawan memberikan dampak ekonomi yang besar kepada masyarakat. Salah satu tantangannya adalah lama tinggal. BPS mencatat rata-rata lama menginap gabungan wisatawan pada Maret 2026 sebesar 1,45 hari. Sementara itu, jika dilihat khusus wisatawan asing, rata-rata lama menginap mencapai 2,13 hari, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masih terdapat ruang untuk meningkatkan lama tinggal wisatawan di Nunukan.

Robby menilai, pengembangan Border Tourism Area dapat menjadi salah satu cara untuk mengubah pola kunjungan tersebut.

Wisatawan yang masuk melalui kawasan perbatasan perlu diarahkan untuk mengunjungi destinasi, menggunakan transportasi lokal, menikmati kuliner, membeli produk UMKM, hingga menginap di hotel atau penginapan yang tersedia.

“Jangan sampai wisatawan hanya datang dan pergi. Kita harus mampu membuat kunjungan mereka memberikan nilai tambah bagi masyarakat,” ujarnya.

Dengan pola tersebut, satu kunjungan wisatawan dapat memberikan manfaat kepada banyak sektor. Wisatawan menggunakan jasa transportasi. Mereka membeli makanan di rumah makan. Mereka menginap di hotel. Mereka membeli oleh-oleh dan produk UMKM. Mereka juga membayar tiket atau menggunakan jasa pemandu ketika mengunjungi destinasi.

Rangkaian aktivitas tersebut menciptakan efek berantai yang lebih besar dibandingkan sekadar mengandalkan aktivitas perlintasan. Konsep Border Tourism Area juga membuka peluang bagi Nunukan untuk tidak membangun pariwisata dengan satu pola. Sebatik–Tawau dapat diarahkan sebagai koridor wisata yang memanfaatkan kedekatan dan hubungan mobilitas masyarakat kedua wilayah.

Sebatik memiliki posisi yang sangat strategis karena berhadapan langsung dengan Tawau. Pemerintah daerah sendiri telah menempatkan Sebatik sebagai kawasan penting dalam pengelolaan perbatasan karena memiliki nilai strategis dari sisi kedaulatan sekaligus ekonomi masyarakat. Sementara itu, Sei Menggaris–Serudong/Kalabakan dapat dikembangkan dengan memanfaatkan karakter kawasan daratan perbatasan dan potensi budaya serta alam.

Adapun Labang–Bantul memiliki peluang dikembangkan sebagai koridor wisata yang menghubungkan potensi masyarakat di kedua sisi perbatasan.

“Tiga koridor tersebut tentu membutuhkan kajian lebih lanjut mengenai destinasi, aksesibilitas, sarana pendukung, pola perjalanan wisatawan, serta mekanisme kerja sama lintas batas. Namun, gagasan tersebut memberikan arah bahwa pariwisata perbatasan tidak harus terpusat di satu kawasan,” jelasnya.

Robby mengingatkan bahwa pengembangan wisata perbatasan tidak dapat dipisahkan dari persoalan konektivitas. Akses jalan, transportasi, fasilitas penyeberangan, akomodasi, jaringan komunikasi, keamanan, serta informasi wisata menjadi bagian penting dari ekosistem pariwisata.

Hal ini sejalan dengan perhatian BPPD Nunukan terhadap pembangunan kawasan perbatasan yang membutuhkan pendekatan terintegrasi. Robby sebelumnya menegaskan bahwa keterbatasan infrastruktur dan transportasi masih menjadi salah satu persoalan yang memengaruhi mobilitas masyarakat di sejumlah wilayah perbatasan.

Artinya, Border Tourism Area tidak cukup hanya ditetapkan sebagai konsep. Kawasan tersebut membutuhkan akses yang mudah, aman, dan nyaman agar wisatawan memiliki alasan untuk datang dan tinggal lebih lama.

Pada akhirnya, tujuan utama pengembangan pariwisata perbatasan bukan hanya meningkatkan jumlah wisatawan. Yang lebih penting adalah meningkatkan nilai ekonomi dari setiap kunjungan.

Semakin lama wisatawan tinggal, semakin banyak pula peluang belanja yang tercipta. Semakin banyak destinasi yang dikunjungi, semakin luas masyarakat yang mendapatkan manfaat.

Karena itu, konsep Border Tourism Area dapat menjadi jembatan antara aktivitas lintas batas dengan ekonomi masyarakat.

Robby menilai pembangunan perbatasan harus diarahkan pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dalam berbagai pembahasan mengenai kawasan perbatasan, ia menekankan bahwa perbatasan bukan hanya persoalan garis wilayah, tetapi juga menyangkut pembangunan ekonomi masyarakat sebagai bagian dari penguatan kawasan perbatasan.

Dalam konteks itu, pariwisata dapat menjadi salah satu instrumen penting. Sebatik, Sei Menggaris, dan Labang tidak lagi hanya dipandang sebagai titik yang berada di dekat garis batas. Ketiganya dapat dikembangkan sebagai koridor ekonomi dan wisata yang menghubungkan masyarakat Indonesia dengan kawasan Sabah.

“Tantangannya sekarang adalah bagaimana mengubah konsep tersebut menjadi program yang konkret, mulai dari penentuan destinasi, peningkatan akses, promosi bersama, penguatan pelaku UMKM, hingga kerja sama pariwisata dengan mitra di Sabah. Jika itu dapat dilakukan, lalu lintas lintas batas tidak hanya menghasilkan angka kunjungan. Lebih jauh, pergerakan wisatawan dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat Nunukan. Bagaimana kunjungan lintas batas dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih luas kepada masyarakat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.