Produk Nunukan Butuh Panggung Regional, Pameran Dagang Kaltara–Sabah Jadi Jalan Membuka Pasar

oleh -4 views
Pelaku UMKM Nunukan yang butuh pasar regional dan internasional (Foto: Prokopim Nunukan)

NUNUKAN — Produk unggulan Kabupaten Nunukan membutuhkan ruang yang lebih luas untuk berkembang. Pasar lokal saja tidak cukup jika pelaku usaha ingin meningkatkan produksi, memperluas jaringan, dan menjangkau konsumen di luar daerah.

Karena itu, gagasan menghadirkan pameran perdagangan yang mempertemukan pelaku usaha Nunukan dengan mitra bisnis dari Sabah, Malaysia, menjadi salah satu peluang yang perlu diperkuat.

Kertas Kerja 2 mengusulkan pameran perdagangan yang dapat dirangkaikan dengan Kaltara Investment Forum (KIF) serta menghadirkan pelaku usaha dan calon mitra dagang dari Sabah. Dokumen tersebut juga mencatat peluang pameran perdagangan yang melibatkan Malaysia, Filipina, dan Brunei Darussalam untuk memperluas akses pasar sekaligus mempromosikan produk unggulan daerah.

Gagasan tersebut dinilai relevan dengan kondisi dunia usaha Nunukan yang sedang membutuhkan jaringan pasar baru.

Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Nunukan, Robby Nahak Serang, mengatakan pelaku usaha lokal harus diberikan ruang untuk bertemu langsung dengan calon pembeli dan mitra bisnis dari luar daerah.

“Pelaku usaha kita harus diberi kesempatan untuk bertemu dengan calon pembeli dan mitra bisnis dari luar daerah. Pameran dapat menjadi salah satu pintu masuk,” kata Robby.

Menurutnya, pasar regional merupakan peluang yang perlu mulai dilihat secara serius oleh pelaku usaha Nunukan, terutama karena daerah ini memiliki posisi geografis yang berhadapan langsung dengan Sabah.

Peluang tersebut semakin terbuka dengan pelaksanaan Kaltara Investment Forum 2026 yang digelar Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara pada Mei 2026.

Forum tersebut tidak hanya menghadirkan investor nasional, tetapi juga investor dari Korea Selatan, Malaysia, dan Singapura. Pemerintah Provinsi Kaltara dalam forum tersebut mendorong investasi berkelanjutan melalui sektor pariwisata dan hilirisasi.

Kondisi ini menunjukkan bahwa Kaltara mulai membangun ruang pertemuan yang lebih luas antara potensi daerah dengan pasar dan investor dari luar negeri. Bagi Nunukan, ruang tersebut dapat dimanfaatkan bukan hanya untuk menawarkan investasi berskala besar, tetapi juga memperkenalkan produk usaha masyarakat.

Pameran perdagangan yang dirangkaikan dengan forum investasi dapat menjadi jembatan antara pelaku UMKM, distributor, pembeli, investor, dan mitra usaha dari negara-negara tetangga.

Dengan begitu, produk Nunukan tidak hanya dipajang untuk dilihat, tetapi memiliki peluang untuk masuk ke jaringan pemasaran yang lebih luas. Produk harus mampu memenuhi kebutuhan pasar yang dituju. Robby mengingatkan, promosi harus berjalan beriringan dengan kesiapan produk.

“Produk harus siap. Kualitas, kemasan, kapasitas produksi, dan kontinuitas pasokan harus diperhatikan,” ujarnya.

Hal tersebut menjadi penting karena calon pembeli dari luar daerah tidak hanya melihat keunikan sebuah produk. Mereka juga mempertimbangkan kualitas, harga, kemasan, kemampuan produksi, serta kepastian pasokan.

Jika sebuah produk diminati tetapi pelaku usaha tidak mampu memenuhi permintaan dalam jumlah dan waktu yang disepakati, peluang pasar dapat hilang. Karena itu, pameran perdagangan seharusnya tidak berhenti pada kegiatan promosi. Pemerintah juga perlu memastikan pelaku usaha mendapatkan pendampingan untuk meningkatkan kualitas produk, desain kemasan, perizinan, kapasitas produksi, dan kemampuan pemasaran.

Potensi tersebut sebenarnya sudah mulai terlihat dari sejumlah produk UMKM Nunukan.

Pada Juli 2026, produk anyaman rotan karya pelaku UMKM Nunukan berhasil dipromosikan dalam Pameran Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) tingkat nasional di Makassar. Produk tersebut mengangkat identitas budaya Nunukan, termasuk motif Lulantatibu yang memadukan unsur budaya Lundayeh, Tagalan, Tahol, Tidung, dan Bulungan.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa produk lokal memiliki peluang untuk keluar dari pasar daerah apabila mendapatkan ruang promosi yang tepat. Tahap berikutnya adalah membawa produk-produk tersebut ke panggung yang lebih dekat dengan pasar regional, termasuk Sabah.

Kedekatan geografis Nunukan dengan Sabah menjadi keuntungan yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Hubungan ekonomi dan mobilitas masyarakat yang sudah terbentuk dapat menjadi modal awal untuk memperkenalkan produk lokal secara lebih luas.

Robby menilai pameran perdagangan harus diarahkan menjadi kegiatan yang menghasilkan hubungan bisnis nyata. Artinya, keberhasilan pameran tidak cukup diukur dari jumlah stan atau banyaknya pengunjung. Lebih penting adalah berapa banyak calon pembeli yang berhasil ditemui, berapa kerja sama yang terbentuk, dan berapa produk yang akhirnya masuk ke pasar baru.

Karena itu, pameran dapat dirancang dengan agenda temu bisnis atau business matching antara pelaku usaha Nunukan dengan calon pembeli dan mitra dagang dari Sabah, Malaysia, Filipina, maupun Brunei Darussalam. Dengan pola tersebut, pelaku usaha tidak hanya memamerkan produknya, tetapi juga mendapatkan kesempatan melakukan negosiasi dan membangun jaringan bisnis.

Bagi daerah perbatasan seperti Nunukan, pasar regional bukan lagi sesuatu yang terlalu jauh untuk dijangkau.

Posisi geografis yang berhadapan langsung dengan Sabah seharusnya dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk lokal secara lebih agresif, tetapi tetap melalui mekanisme perdagangan yang legal dan terukur. (Adv)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.