NUNUKAN — Promosi pariwisata di wilayah perbatasan Nunukan membutuhkan cara baru. Di tengah perubahan perilaku wisatawan yang semakin bergantung pada teknologi, informasi mengenai destinasi tidak cukup hanya disampaikan melalui brosur, spanduk, atau promosi konvensional.
Kertas Kerja 2 mendorong keberlanjutan Tourism Information Center (TIC) dengan memanfaatkan platform digital, jejaring, serta metode manual. Konsep tersebut dinilai penting untuk memperkuat promosi pariwisata perbatasan sekaligus memudahkan wisatawan memperoleh informasi sebelum melakukan perjalanan.
Gagasan tersebut menjadi semakin relevan bagi Sebatik yang memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan Tawau, Sabah, Malaysia.
Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Nunukan, Robby Nahak Serang, mengatakan perkembangan teknologi harus dimanfaatkan untuk memperluas jangkauan promosi pariwisata Nunukan.
“Kita harus memastikan informasi tentang destinasi Nunukan mudah ditemukan wisatawan. Dunia digital memberikan ruang promosi yang sangat luas,” kata Robby.
Peluang untuk memperkuat promosi digital sebenarnya sudah mulai terbuka. Pada April 2026, PLBN Sebatik menjadi lokasi sosialisasi strategi promosi acara daerah di era digital yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata. Kegiatan tersebut mendorong pelaku pariwisata dan penyelenggara acara daerah agar lebih mampu memanfaatkan teknologi digital dalam mempromosikan berbagai kegiatan dan potensi wisata.
Momentum tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun pola promosi pariwisata yang lebih terintegrasi. Sebatik tidak hanya memiliki posisi sebagai kawasan perbatasan, tetapi juga menjadi salah satu pintu masuk wisatawan yang memiliki hubungan langsung dengan Tawau.
Karena itu, informasi mengenai destinasi, agenda kegiatan, akomodasi, kuliner, transportasi, hingga produk lokal perlu tersedia secara mudah dan cepat.
Robby menilai TIC tidak seharusnya hanya dipahami sebagai tempat wisatawan datang untuk mengambil brosur atau bertanya mengenai lokasi wisata. Di era digital, TIC dapat dikembangkan menjadi pusat informasi dan promosi yang terhubung dengan berbagai sektor pariwisata.
“Informasi destinasi harus terhubung dengan transportasi, penginapan, kuliner, produk lokal, dan kegiatan wisata,” ujarnya.
Konsep tersebut membuat TIC memiliki fungsi yang lebih luas. Wisatawan yang mencari destinasi dapat langsung memperoleh informasi mengenai cara menuju lokasi, tempat menginap, pilihan makanan, kegiatan yang dapat dilakukan, hingga produk lokal yang dapat dibeli.
Dengan demikian, TIC tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membantu menghubungkan wisatawan dengan pelaku usaha.
Kertas Kerja 2 juga mencatat bahwa Sabah telah mengembangkan TIC di Kota Kinabalu dengan mengarah pada penyediaan materi promosi digital. Langkah tersebut menunjukkan bahwa pusat informasi pariwisata tidak harus bergantung pada metode konvensional.
Bagi Nunukan, perkembangan tersebut dapat menjadi pembelajaran untuk membangun sistem promosi yang lebih sesuai dengan karakter wisatawan saat ini.
Wisatawan cenderung mencari informasi melalui internet sebelum menentukan tujuan perjalanan. Karena itu, destinasi yang tidak memiliki informasi digital yang jelas akan lebih sulit ditemukan. Hal tersebut menjadi tantangan bagi Nunukan yang memiliki banyak potensi wisata, tetapi belum semuanya dikenal secara luas.
Digitalisasi promosi juga harus memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Informasi mengenai destinasi sebaiknya tidak berdiri sendiri. Ketika wisatawan melihat sebuah destinasi, mereka juga perlu mendapatkan informasi mengenai jasa transportasi, penginapan, rumah makan, pemandu wisata, serta produk UMKM di sekitar kawasan.
Pola tersebut akan membuat promosi wisata memiliki efek ekonomi yang lebih luas. Robby mengatakan pengembangan pariwisata harus diarahkan agar kunjungan wisatawan memberikan manfaat kepada masyarakat.
“Informasi destinasi harus terhubung dengan transportasi, penginapan, kuliner, produk lokal, dan kegiatan wisata,” katanya.
Artinya, semakin mudah wisatawan mendapatkan informasi, semakin besar pula peluang pelaku usaha lokal mendapatkan pelanggan.
Sebatik memiliki posisi yang strategis untuk menjadi salah satu pintu promosi pariwisata Nunukan. Kedekatannya dengan Tawau dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan destinasi, produk lokal, dan berbagai kegiatan wisata kepada masyarakat serta wisatawan dari Sabah.
Namun, promosi tersebut membutuhkan sistem yang konsisten. Tidak cukup hanya membuat akun media sosial atau situs informasi tanpa pembaruan secara berkala. Informasi harus akurat, mudah dipahami, menarik, dan diperbarui sesuai perkembangan destinasi maupun kegiatan yang berlangsung.
Karena itu, pengelolaan TIC membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pelaku pariwisata, pelaku UMKM, pengelola destinasi, dan masyarakat. Jika dikelola dengan baik, TIC dapat berkembang dari sekadar pusat informasi menjadi pusat promosi digital pariwisata perbatasan.
Bagi Nunukan, langkah tersebut menjadi semakin penting ketika arus wisatawan mulai tumbuh dan konsep Border Tourism Area mulai didorong. Robby menilai teknologi harus dimanfaatkan untuk memastikan potensi wisata Nunukan tidak hanya dikenal oleh masyarakat lokal, tetapi juga dapat ditemukan oleh wisatawan dari luar daerah dan luar negeri.
“Kita harus memastikan informasi tentang destinasi Nunukan mudah ditemukan wisatawan,” ujarnya.
Dengan demikian, digitalisasi TIC bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi. Lebih jauh, langkah tersebut dapat menjadi bagian dari strategi untuk mendatangkan wisatawan, memperpanjang lama tinggal, memperluas promosi produk lokal, dan menggerakkan ekonomi masyarakat perbatasan. (Adv)







