Hortikultura Nunukan Menghadapi Tantangan dari Hulu hingga Pasar

oleh -4 views
Bupati Nunukan H Irwan Sabri saat melakukan panen padi di Sebatik (Foto: Prokopim Nunukan)

NUNUKAN — Pengembangan hortikultura di Kabupaten Nunukan tidak cukup hanya dengan meningkatkan produksi. Tantangan yang dihadapi petani jauh lebih panjang, mulai dari ketersediaan benih, teknik budi daya, pengendalian organisme pengganggu tanaman, penanganan setelah panen hingga kepastian pasar.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena pertanian masih menjadi bagian besar dari kehidupan masyarakat Nunukan. Data BPS berdasarkan Sensus Pertanian 2023 mencatat terdapat 21.601 rumah tangga usaha pertanian di Kabupaten Nunukan. Angka ini menunjukkan bahwa kebijakan pengembangan pertanian memiliki dampak langsung terhadap kehidupan ekonomi masyarakat.

Khusus hortikultura, BPS mencatat luas panen tanaman sayuran dan buah-buahan semusim di Nunukan pada 2024 mencapai 1.045 hektare, meningkat 1,87 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Beberapa komoditas bahkan mencatat peningkatan luas panen cukup besar, seperti labu siam, cabai keriting, kangkung, dan petsai atau sawi.

Data tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas hortikultura di Nunukan terus bergerak. Namun, peningkatan produksi dan luas panen belum otomatis menjamin peningkatan pendapatan petani.

Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Kabupaten Nunukan, Robby Nahak Serang, mengatakan pengembangan pertanian harus dilihat sebagai satu rantai ekonomi yang saling terhubung.

“Kita tidak boleh hanya melihat berapa banyak produksi yang dihasilkan. Kita harus melihat bagaimana kualitasnya, bagaimana hasil panen ditangani, dan ke mana produk tersebut dipasarkan,” ujar Robby.

Menurut Robby, persoalan petani tidak selesai ketika tanaman berhasil dipanen. Kualitas hasil pertanian, penanganan pascapanen, penyimpanan, pengemasan, transportasi, hingga pemasaran sangat menentukan nilai ekonomi yang diterima petani.

Jika produksi meningkat, tetapi hasil panen tidak ditangani dengan baik atau pasar tidak tersedia, harga komoditas dapat turun dan keuntungan petani menjadi terbatas. Karena itu, peningkatan produktivitas harus berjalan bersama dengan peningkatan kualitas dan kepastian pasar.

“Petani harus mendapatkan dukungan dari hulu sampai hilir. Mulai dari teknologi dan sarana produksi sampai bagaimana hasil pertanian tersebut dapat masuk ke pasar,” kata Robby.

BPS sendiri terus memperkuat penyediaan data pertanian. Publikasi Statistik Padi dan Palawija Kabupaten Nunukan 2025 yang dirilis April 2026 menyajikan data luas panen, produktivitas, dan produksi padi serta palawija. Data tersebut menjadi salah satu dasar penting untuk melihat perkembangan produksi pertanian secara lebih terukur.

Tantangan berikutnya adalah kemampuan petani menghadapi perubahan kondisi produksi. Ketersediaan benih berkualitas, penggunaan teknologi budi daya, pemupukan yang tepat, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman menjadi bagian penting untuk menjaga produktivitas.

Dalam konteks ini, kerja sama Nunukan dengan Sabah melalui SOSEK MALINDO dapat diarahkan tidak hanya pada perdagangan hasil pertanian, tetapi juga pertukaran pengetahuan dan teknologi.

Sabah dan Kalimantan Utara memiliki kedekatan geografis serta karakter lingkungan tropis yang relatif berdekatan. Kondisi tersebut membuka peluang pertukaran pengalaman mengenai pengembangan komoditas, teknologi pertanian, penanganan pascapanen, dan pemasaran.

“Kerja sama dengan Sabah harus diarahkan pada pertukaran pengetahuan dan teknologi yang benar-benar dapat diterapkan di lapangan,” ujar Robby.

Persoalan pasar menjadi bagian yang tidak kalah penting. Produksi pertanian akan memberikan manfaat ekonomi apabila petani memiliki akses terhadap pasar dengan harga yang layak dan jalur distribusi yang efisien.

Posisi Nunukan sebagai daerah perbatasan sebenarnya memberikan peluang tersendiri. Kedekatan dengan Sabah dapat menjadi salah satu alternatif pasar bagi produk pertanian lokal apabila kualitas, volume, kontinuitas pasokan, serta persyaratan perdagangan dapat dipenuhi.

Robby mengatakan peluang tersebut harus dipersiapkan sejak dari tingkat petani.

“Kalau kita ingin masuk ke pasar yang lebih luas, produk harus memiliki kualitas yang baik dan produksinya harus berkelanjutan. Jangan hanya mampu menghasilkan sekali, tetapi tidak mampu memenuhi kebutuhan pasar secara konsisten,” katanya.

Artinya, pengembangan hortikultura tidak cukup hanya mengejar produksi sebanyak-banyaknya. Petani juga perlu mengetahui komoditas yang dibutuhkan pasar, standar kualitas yang harus dipenuhi, serta bagaimana produk dapat dikirim dengan biaya yang efisien.

Bagi Robby, pembahasan hortikultura dalam Kertas Kerja 2 SOSEK MALINDO 2026 perlu diarahkan pada pembangunan rantai ekonomi yang lebih kuat.

Mulai dari penyediaan benih, produksi, teknologi budi daya, pengendalian hama dan penyakit, panen, pascapanen, pengolahan, distribusi hingga pemasaran harus saling terhubung.

Dengan pola tersebut, petani tidak berdiri sendiri. Mereka menjadi bagian dari sebuah sistem ekonomi yang menghubungkan petani dengan pelaku usaha, pengolah, pedagang, konsumen, dan pasar lintas batas.

“Yang kita bangun bukan hanya produksinya, tetapi ekosistem pertaniannya. Kalau semua mata rantai berjalan, manfaat ekonominya juga akan lebih besar bagi masyarakat,” tegas Robby.

Data BPS menunjukkan bahwa Nunukan memiliki basis masyarakat pertanian yang kuat dan aktivitas hortikultura yang terus berkembang. Tantangannya sekarang adalah bagaimana potensi tersebut diubah menjadi kekuatan ekonomi yang lebih kompetitif.

Kerja sama dengan Sabah dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat kemampuan tersebut, terutama dalam pertukaran teknologi, pengetahuan, akses pasar, dan pengembangan perdagangan. Namun, peluang itu membutuhkan kesiapan dari dalam daerah.

Bagi Nunukan, pengembangan hortikultura pada akhirnya bukan hanya persoalan meningkatkan hasil panen. Lebih jauh, bagaimana petani memperoleh nilai ekonomi yang lebih baik, produk memiliki pasar yang jelas, dan komoditas lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas.

“Kalau produktivitas meningkat, kualitas meningkat, dan pasarnya tersedia, maka pertanian akan memberikan manfaat yang lebih besar. Itu yang harus kita dorong bersama,” pungkas Robby. (Adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.