Menembus Lumpur di Beranda Negeri, Perjuangan Tim BPPD Nunukan Mengawal Harapan Warga Krayan Memiliki Rumah Layak Huni  

oleh -34 views
Tiga personel BPPD Nunukan yang berjibaku dengan lumpur demi memverifikasi dan validasi RTLH di Daratan Tinggi Krayan (Foto: BPPD Nunukan)

NUNUKAN — Deru mesin sepeda motor trail memecah kesunyian pagi di Dataran Tinggi Krayan. Embun masih menggantung di pucuk pepohonan, sementara kabut tipis menyelimuti perbukitan hijau yang menjadi benteng alami kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Jalur tanah berwarna kemerahan yang membelah hutan tampak lengang, namun menyimpan tantangan yang tidak ringan.

Di atas lintasan yang licin dan berlumpur itu, tiga aparatur Badan Pengelolaan Perbatasan Daerah (BPPD) Kabupaten Nunukan terus memacu kendaraan mereka. Sesekali roda belakang motor trail kehilangan traksi dan tergelincir di kubangan lumpur. Di beberapa titik, mereka harus turun, mendorong motor melewati tanjakan curam, bahkan berjalan kaki ketika jalan berubah menjadi lumpur pekat yang nyaris mustahil dilintasi. Perjalanan itu bukanlah sebuah petualangan. Tidak pula sekadar agenda kunjungan kerja.

Mereka sedang mengemban amanah negara untuk memastikan Program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) bagi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak.

Tim verifikasi dan validasi tersebut dipimpin Kepala Subbagian Umum dan Kepegawaian BPPD Kabupaten Nunukan, Canra Yudha, bersama dua orang lainnya yakni Kasubbid Pengendalian dan Pengawasan BPPD Nunukan M Arie Zulkifli dan staf BPPD Ardiyanto. Selama beberapa hari, mereka menyusuri desa-desa di Dataran Tinggi Krayan yang dikenal sebagai salah satu wilayah paling menantang dari sisi akses transportasi di Kabupaten Nunukan.

Bagi masyarakat perkotaan, perjalanan puluhan kilometer mungkin hanya persoalan waktu. Namun di Krayan, setiap kilometer menghadirkan tantangan yang berbeda. Hampir seluruh akses menuju permukiman warga masih berupa jalan tanah. Saat cuaca cerah, debu beterbangan mengikuti laju kendaraan. Namun begitu hujan turun, jalan berubah menjadi lintasan berlumpur yang licin dan penuh kubangan. Tidak sedikit kendaraan yang kehilangan keseimbangan, bahkan terperosok karena roda tidak mampu mencengkeram permukaan jalan.

Dalam kondisi seperti itulah sepeda motor trail menjadi satu-satunya moda transportasi yang paling memungkinkan menjangkau rumah-rumah warga yang tersebar di berbagai desa.

“Medan di Krayan memang tidak mudah. Jalan yang kami lalui sebagian besar masih berupa jalan tanah. Ketika hujan turun, jalannya menjadi sangat licin dan berlumpur sehingga perjalanan membutuhkan kehati-hatian ekstra. Ada kalanya kami harus turun dari motor untuk mendorong kendaraan agar bisa melewati tanjakan maupun kubangan lumpur,” ungkap Canra Yudha.

Perjalanan panjang itu sama sekali tidak menyurutkan semangat tim. Mereka memahami bahwa setiap rumah yang harus dikunjungi bukan sekadar titik koordinat dalam daftar usulan penerima bantuan. Di balik setiap alamat terdapat keluarga yang selama bertahun-tahun hidup di rumah dengan kondisi memprihatinkan. Setibanya di lokasi, perjalanan belum benar-benar usai.

Tim masih harus mendatangi rumah-rumah warga satu per satu. Mereka memeriksa kondisi bangunan secara menyeluruh, mulai dari pondasi, lantai, dinding, atap, hingga tingkat kelayakan huni. Seluruh kondisi fisik rumah didokumentasikan sebagai bagian dari proses verifikasi, kemudian dicocokkan dengan data administrasi yang telah diusulkan.

Tidak hanya itu, tim juga berdialog langsung dengan pemilik rumah untuk memperoleh informasi mengenai kondisi sosial dan ekonomi keluarga sehingga proses validasi benar-benar menggambarkan keadaan yang sebenarnya.

“Kami ingin memastikan bahwa setiap data yang diajukan sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Program BSPS harus tepat sasaran sehingga masyarakat yang memang membutuhkan dapat menerima bantuan pemerintah,” kata Canra.

Bagi tim verifikasi, pekerjaan tersebut tidak cukup dilakukan dari balik meja. Akurasi data hanya dapat diperoleh melalui kehadiran langsung di tengah masyarakat.

Karena itu, mereka rela menghabiskan waktu berjam-jam mengendarai motor trail melintasi jalan berlumpur, menyeberangi alur sungai kecil, serta melewati tanjakan dan turunan yang menguras tenaga demi mencapai rumah-rumah warga yang berada jauh dari pusat permukiman.

Di sejumlah lokasi, mereka bahkan harus bergotong royong mengangkat atau menarik sepeda motor agar dapat melewati jalan yang rusak. Lumpur yang menempel di sepatu dan pakaian menjadi pemandangan yang lumrah selama menjalankan tugas.

Namun semua kelelahan itu seakan terbayar ketika mereka menyaksikan langsung kondisi rumah-rumah warga.

Ada rumah yang dinding kayunya mulai rapuh dimakan usia. Ada pula rumah dengan atap bocor yang tidak lagi mampu melindungi penghuni saat hujan turun. Sebagian lantai rumah masih berupa papan yang lapuk, bahkan ada yang mulai amblas sehingga membahayakan keselamatan penghuninya.

Pemandangan tersebut semakin menguatkan keyakinan bahwa program BSPS memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar pembangunan fisik sebuah rumah.

“Ketika melihat langsung kondisi rumah masyarakat, kami semakin memahami bahwa bantuan ini bukan hanya tentang memperbaiki bangunan. Program ini menghadirkan harapan agar masyarakat memiliki tempat tinggal yang lebih layak, sehat, aman, dan nyaman untuk keluarganya,” tutur Canra.

Baginya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah rumah yang nantinya dibangun atau diperbaiki. Lebih dari itu, keberhasilan ditentukan oleh ketepatan sasaran sehingga setiap rupiah anggaran negara benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat yang membutuhkan.

Perjuangan tim verifikasi dan validasi di Dataran Tinggi Krayan menjadi potret nyata bagaimana pelayanan publik dijalankan di kawasan perbatasan negara. Di balik berkas usulan, formulir, dan dokumen administrasi, terdapat dedikasi aparatur yang rela menghadapi medan berat demi memastikan hak-hak masyarakat terpenuhi.

Di wilayah yang berbatasan langsung dengan Malaysia itu, pengabdian tidak selalu ditunjukkan melalui ruang rapat atau seremoni. Pengabdian hadir dalam deru mesin motor trail yang menembus jalan berlumpur, dalam langkah kaki yang menyusuri tanjakan licin menuju rumah-rumah sederhana, dan dalam tekad aparatur negara untuk memastikan tidak ada satu pun warga perbatasan yang tertinggal dari pembangunan.

Perjalanan Tim Verifikasi dan Validasi BPPD Kabupaten Nunukan di Dataran Tinggi Krayan menjadi bukti bahwa negara benar-benar hadir hingga ke beranda terdepan Indonesia. Meski harus berjibaku dengan medan yang berat dan akses yang terbatas, semangat mereka tidak pernah surut. Sebab, di ujung setiap perjalanan yang penuh lumpur itu, tersimpan harapan besar masyarakat perbatasan untuk memiliki rumah yang lebih layak sebagai tempat membangun kehidupan dan masa depan keluarga. (Adv)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.