NUNUKAN — Keberadaan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Sebatik diharapkan tidak hanya menjadi fasilitas pemeriksaan keluar-masuk orang dan barang, tetapi juga mampu menjadi penggerak ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan.
Dalam Kertas Kerja 2, percepatan pengoperasian PLBN Sebatik menjadi salah satu hal yang didorong untuk meningkatkan pelayanan lintas batas sekaligus membuka peluang perdagangan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Nunukan, Robby Nahak Serang, mengatakan PLBN harus dilihat sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kawasan.
“PLBN bukan hanya tempat pemeriksaan orang dan barang. Ketika pelayanan lintas batas berjalan baik, fasilitas itu dapat menjadi bagian dari penggerak perdagangan, pariwisata, dan aktivitas ekonomi masyarakat,” kata Robby.
Menurutnya, keberadaan PLBN akan memberikan manfaat lebih besar jika didukung pelayanan yang baik, akses transportasi, serta sistem yang mampu menunjang aktivitas masyarakat.
“Fasilitas harus diikuti dengan pelayanan, akses, dan sistem yang mendukung kegiatan masyarakat,” ujarnya.
Sebatik memiliki posisi strategis karena berhadapan langsung dengan Tawau, Malaysia. Kondisi tersebut menjadi peluang untuk memperkuat aktivitas ekonomi lintas batas secara legal dan teratur.
Jika PLBN beroperasi secara optimal, dampaknya tidak hanya dirasakan dalam kegiatan perdagangan. Berbagai sektor lain juga berpeluang berkembang, seperti transportasi, kuliner, penginapan, jasa, dan usaha mikro masyarakat.
Menurut Robby, aktivitas lintas batas yang semakin baik dapat menciptakan efek berantai bagi perekonomian masyarakat Sebatik.
Karena itu, pengoperasian PLBN perlu diikuti dengan konektivitas dan pelayanan yang memadai agar masyarakat benar-benar memperoleh manfaat dari keberadaan fasilitas tersebut.
Peluang lainnya terdapat pada sektor pariwisata. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Nunukan sebelumnya melakukan kunjungan ke PLBN Sebatik untuk memperkuat pencatatan statistik wisatawan mancanegara.
Data tersebut penting untuk mengetahui perkembangan arus wisatawan sekaligus menjadi bahan dalam merumuskan kebijakan pariwisata dan ekonomi di kawasan perbatasan.
Dengan semakin baiknya pelayanan lintas batas, peluang kunjungan wisatawan dari Malaysia maupun negara lain juga dapat dikembangkan. Kondisi itu dapat membuka pasar bagi pelaku usaha lokal.
Robby menegaskan, pembangunan PLBN tidak boleh berhenti pada penyediaan infrastruktur.
Keberadaan fasilitas tersebut harus diikuti dengan pelayanan yang efektif, akses yang baik, serta kebijakan yang mampu mendorong kegiatan ekonomi masyarakat.
“PLBN harus dipandang sebagai bagian dari ekosistem ekonomi,” tegasnya.
Dengan posisi Sebatik yang berhadapan langsung dengan Tawau, PLBN memiliki peluang besar menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi perbatasan di Kabupaten Nunukan. Karena itu, percepatan pengoperasian PLBN Sebatik diharapkan tidak hanya memperlancar perlintasan, tetapi juga membuka lebih banyak peluang usaha dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dengan dukungan perdagangan, pariwisata, transportasi, dan jasa, PLBN Sebatik diharapkan benar-benar menjadi gerbang negara sekaligus mesin ekonomi bagi masyarakat perbatasan. (Adv)








